I.     PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN PEER LESSON DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR SISWA MATA PELAJARAN TAFSIR DALAM MATERI QIRA'AH AL-QUR'AN DI KELAS X-AGAMA MAN 2 MADIUN TAHUN PELAJARAN 2015/2016

II.     Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidika guru mempunyai peranan penting khususnya dalam kegiatan pembelajaran, diantaranya sebagai fasilitator, motivator, creator, dan inovator. Sehingga pola pikir pembelajaran mengacu pada empat pilar pendidikan yang ditetapkan UNESCO yaitu Learning to know (belajar mengetahui), Learning to do (belajar melakukan), Learning to be (belajar menjadi diri sendiri), and Learning to live together (belajar hidup dalamkebersamaan).[1]
Penggunaan strategi pembelajaran mempunyai peranan penting dalam menciptakan kondisi pembelajaran yangdapat melibatkan aktivitas siswa. Oleh karena itu perlu adanya aktivitas siswa serta kemampuan guru dalam menerapkan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi, sehingga siswa tidak merasa bosan. Penggunaan Strategi yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam kegiatan belajar-mengajar, tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama.[2] Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, sedang, dan lambat. Proses pembelajaran selama ini masih terkesan hanya berpusat pada guru (teacher oriented) yang menganggap bahwa guru adalah satu-satunya sumber utama dan serba tahu, sedangkan siswa hanya menerima apa yang diberikan oleh guru, sehingga ceramah merupakan satu-satunya pilihan yang dianggap paling cocok dalam strategi pembelajaran. Hal inilah yang menyebabkan hasil pembelajaran tidak sesuai dengan harapan, karena siswa hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis dan bertindak pasif, sedangkan guru bertindak aktif dalam memberikan informasi.
Proses pembelajaran pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan melalui media tertentu kepada penerima pesan. Seorang siswa akan berhasil dalam belajar, kalau pada dirinya sendiri ada keinginan untuk belajar. Inilah prinsip pertama dalam kegiatan-kegiatan pendidikan dan pengajaran. Keinginan atau dorongan untuk belajar inilah yang disebut motivasi. Sebab tanpa adanya keaktifan, siswa tidak mengerti apa yang akan dipelajarai dan tidak memahami mengapa hal itu perlu dipelajarai. Sehingga kegiatan belajar mengajar sulit untuk berhasil.[3]
Kesulitan belajar juga disebabkan kurang aktifnya siswa, jarang bertanya, jarang mencatat, dan mengalami kesulitan dalam menyampaikan pendapat pada waktu dikelas. Siswa mengalami kesulitan belajar dengan menggunakan catatannya sendiri, karena teknik mencatat siswa belum terstruktur sesuai dengan pemikiran siswa itu sendiri. Sehingga masih berpedoman pada buku paket dan lembar kerja siswa (LKS).
Peer Lesson merupakan suatu strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di dalam kelas dan menempatkan seluruh tanggung jawab pegajaran kepada seluruh anggota kelas.[4] Strategi ini didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa secara mandiri dan menuntut saling ketergantungan yang positif terhadap teman sekelompoknya karena setiap kelompok bertanggungjawab untuk menguasai materi pelajaran yang telah ditentukan dan mengajarkan atau menyampaikan materi tersebut kepada kelompok lain.
Modalitas belajar merupakan potensi dasar atau kecenderungan yang dimiliki anak. Modalitas ini akan mempengaruhi penentuan pendekatan belajar, strategi, metode, dan teknik belajar anak. Sehingga modalitas belajar ini perlu dipertimbangkan dalam proses pembelajaran termasuk pemilihan dan penggunaan media pembelajaran yang akan ditetapkan.[5] Modalitas belajar tersebut dapat dibagi menjadi 3 (tiga) yaitu; visual (yaitu belajar dengan cara melihat), auditorial (yaitu belajar dengan cara mendengar), dan kinestetik (yaitu belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh).
Dengan memperhatikan berbagai kegunaan media dan macam-macam media serta dengan memperhatikan modalitas belajar yang dimiliki siswa yangtelah dipaparkan di atas, maka peneliti akan mencoba menggunakan media audiovisual. Media audio-visual yaitu media pandang-dengar. Media penyajian bahan ajar kepada siswa semakin lengkap dan optimal sesuai dengan modalitas belajar siswa sehingga diharapkan siswa akan lebih paham akan materi pembelajaran yang dipelajari sehingga prestasi belajar siswa akan lebih meningkat.
Materi qira'ah dalam mata pelajaran tafsir harus menggunakan media audiovisual karena siswa harus mampu mengidentifikasi beberapa ragam bacaan dalam satu ayat atau surat. Dalam materi dalam buku ajar siswa dan buku guru tidak disebutkan contoh ragam qiraah dalam satu sayat atau surat, sehingga siswa sulit untuk memahami ragam bacaan tersebut, sehingga perlu disajikan materi secara jelas yang diharapkan siswa mampu mengidentifikasi atau menyebutkan perbedaan bacaan tersebut. Adapun kelas yang dijadikan obyek penelitian adalah kelas X Agama semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Oleh karena itu, peneliti mengambil judul " Penerapan Strategi Pembelajaran Peer Lesson dengan Media Audio Visual untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa Mata Pelajaran Tafsir dalam Materi Qira'ah Sab'ah di Kelas X Agama MAN 2 MADIUN Semester 2 Tahun Pelajaran 2015/2016”.

III.     Identifikasi dan Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi masalahnya yaitu, mengapa kemampuan memahami ragam bacaan qira'at al-Qur'an siswa kelas X Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 masih rendah?
Keaktifan adalah salah satu fasilitas atau kecenderungan individu untuk mencapai tujuan. Individu yang memiliki motivasi, akan memiliki kegigihan dan semangat dalam melakukan aktifitasnya. Individu atau siswa dikatakan memiliki keaktifan belajar, apabila individu memiliki adanya suatu tujuan yang diharapkan dalam kegiatan belajarnya, selain itu adanya sikap ulet, gigih, tidak putus asa dalam menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah. Individu yang memiliki sikap tidak jenuh dalam pelajaran, dan selalu mencari cara untuk menemukan ide-ide dalam belajar turut serta dikatakan sebagai individu yang memiliki keaktifan belajar yang kuat. Sedangkan keaktifan belajar siswa di sini adalah kemampuan siswa untuk dapat memahami, menyelesaikan dan memecahkan tugas yang berkaitan dengan materi ragam bacaan qira'ah al-Qur'an.
Hasil belajar merupakan segala upaya yang menyangkut aktivitas otak (proses berfikir) terutama dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. prestasi belajar tidak akan bisa diketahui tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok. Dalam pembahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat motivasi.
Dalam kegiatan belajar mengajar setiap guru selalu berusaha melakukan kegiatan pembelajaran secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran secara efektif disini dimaksudkan agar pembelajaran tersebut dapat membawa hasil atau berhasil guna, dan kegiatan pembelajaran secara efisien dimaksudkan agar pembelajaran tersebut dapat berdaya guna atau tepat guna baik di lingkungan sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang akan dipilih dan digunakan oleh seorang pengajar untuk menyampaikan materi pembelajaran, sehingga akan memudahkan peserta didik mencapai tujuan yang dikuasai diakhir kegiatan belajar. Peer Lesson adalah sebuah strategi yang mengembangkan Peer Teaching dalam kelas yang menempatkan seluruh tanggung jawab untuk mengajar pada peserta didik sebagai anggota kelas. Peer Lesson merupakan salah satu strategi dari active learning (pembelajaran aktif). Ini berarti strategi Peer Lesson merupakan strategi untuk mendukung pengajaran sesama siswa di dalam kelas.
Sedangkan media yang dipakai adalah audio visual yakni alat bantu yang terdiri dari media visual yang disinkronkan dengan media audio sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara pengirim pesan ke penerima pesan, yaitu guru dan peserta didik yang dapat ditangkap oleh indera pendang dan dengar. Media audiovisual merupakan perpaduan yang saling mendukung gambar dan suara, yang mampu menggugah perasaan dan pemikiran penonton.

IV.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah, maka penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.    Apakah melalui strategi pembelajaran peer lesson dapat meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an bagi siswa kelas XI Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 ?
2.    Apakah melalui media pembelajaran dengan audiovisual dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an bagi siswa kelas XI Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 ?

V.     Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.    Untuk meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an bagi siswa kelas XI Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.
2.    Melalui media pembelajaran dengan audiovisual dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an bagi siswa kelas XI Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.

VI.     Kontribusi Hasil  Penelitian
1.    Bagi Siswa
a.    Dapat meningkatkan keaktifan belajar meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an.
b.    Dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an.
c.    Dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar pada mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an, sehingga meningkatkan (prestasi) hasil belajarnya.
2.    Bagi Peneliti
a.    Melalui strategi pembelajaran peer lesson dapat meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an.
b.    Melalui media pembelajaran dengan audiovisual dapat meningkatkan hasil belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an.
c.    Melalui strategi pembelajaran peer lesson dapat meningkatkan keaktifan belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah al-Qur'an, sehingga meningkat pula hasil belajar bagi siswa.
3.    Bagi Sekolah
a.    Meningkatnya (prestasi) hasil belajar para siswa secara tidak langsung akan meningkatkan pula prestasi sekolah .
b.    Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai rujukan atau pijakan dalam merumuskan kebijakan pendidikan pada sekolah, khususnya dalam penggunaan media pembelajaran
4.    Bagi Teman Sejawat
a.    Bisa digunakan sebagai referensi mengajar bagi guru lain dalam proses pembelajaran.
b.    Dapat digunakan sebagai acuan untuk pembuatan penelitian tindakan kelas lebih lanjut.
5.    Bagi Perpustakaan Sekolah
a.    Dapat dijadikan jurnal atau buku referensi agar dimanfaatkan oleh para pecinta pendidikan.
b.    Bisa menambah koleksi buku bacaan pada perpustakaan sekolah.


VII.            Landasan Teoritik, Telaah Hasi Penelitian Terdahulu, Kerangka Berpikir, Dan Pengajuan Hipotesis
A.  Landasan Teoritik
1.    Keaktifan Siswa
a.    Pengertian
Keaktifan berasal dari kata “aktif” yang artinya selalu berusaha, bekerja, dan belajar dengan sungguh-sungguh supaya mendapat kemajuan/prestasi yang gemilang.[6] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktif diartikan sebagai giat.[7] Keaktifan siswa berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat oleh siswa yang menghasilkan perubahan dari tidak melakukan apa-apa menjadi melakukan sesuatu. Sedangkan aktivitas siswa dapat dijabarkan sebagai keterlibatan siswa dalam bentuk sikap, kesibukan, maupun kegiatan siswa dalam proses belajar mengajar.
Ketika siswa hanya mendengarkan penjelasan guru saja, maka ia akan cepat lupa dengan informasi yang ia dengar. Karena belajar yang hanya mengandalkan indera pendengaran mempunyai kelemahan cepat lupa, padahal hasil belajar seharusnya disimpan dalam jangka waktu lama. Salah satu faktor yang menyebabkan informasi cepat dilupakan adalah faktor kelemahan otak manusia. Agar hasil belajar dapat disimpan dalam selang waktu yang panjang, maka siswa diharuskan memahami apa yang telah ia pelajari. Kenyataan ini, sesuai dengan kata-kata mutiara yang diberikan oleh seorang filosof dari Yunani, konfusius yang mengatakan: "Apa yang saya dengar, saya lupa Apa yang saya lihat, saya ingat Apa yang saya lakukan saya paham".[8]
Berdasarkan ungkapan tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran tidak hanya dilakukan dengan ceramah saja. Agar siswa dapat memahami materi pelajaran, maka dalam kegiatan pembelajaran guru hendaknya menunjukkan konsep yang nyata kepada siswa, dan guru hendaknya melibatkan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Khususnya pada mata pelajaran matematika yang merupakan dasar dari ilmu pengetahuan yang mengharuskan siswa berpikir kritis, logis, teoritis, rasional dan percaya diri.
Keaktifan itu ada secara langsung seperti mengerjakan tugas, berdiskusi, mengumpulkan data, dan lain sebagainya.[9] Bentuk keaktifan siswa dalam belajar salah satunya adalah pemusatan terhadap apa yang dijelaskan oleh guru, perenungan dan penerapan dalam penyelesaian masalah. Jadi, dalam pembelajaran, keaktifan siswa menjadi lebih dominan karena siswa lebih banyak melakukan aktivitas belajar.
b.    Unsur Keaktifan
Sudjana menjelaskan bahwa kegiatan belajar atau aktivitas belajar sebagai proses terdiri dari enam unsur, yaitu unsur belajar, peserta didik, tingkat kesulitan belajar, stimulus dan lingkungan, peserta didik yang memahami situasi, pola respon.[10] Menurut Paul B. Dierdich yang dikutip oleh S. Nasution, aktivitas siswa dapat digolongkan menjadi delapan, yaitu: (1) Visual Activities yaitu membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, dsb. (2) Oral Activities yaitu menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakanwawancara, diskusi, interupsi, dsb. (3) Listening Activities yaitu mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato, dsb. (4) Writing Activities yaitu menulis: cerita, karangan, laporan, tes, angket, menyalin, dsb. (5) Drawing Activities yaitu menggambar, membuat grafik, peta, pola, diagram, dsb.(6) Motor Activities yaitu melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, memelihara binatang, berkebun, dsb. (7) Mental Activities yaitu menanggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dsb. (8) Emotional Activities yaitu menaruh minat, merasa, bosan, gembira, berani, senang, gugup, dsb.[11]
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat di tarik benang merah bahwa keaktifan siswa secara optimal yang terjadi di dalam proses pembelajaran adalah ketika guru menyajikan materi berperan sebagai fasilitator bukan sebagai subjek pembelajaran. Guru menjembatani siswa untuk dapat tanggap terhadap materi yang sedang disampaikan sehingga interaksi guru dengan siswa berjalan optimal. Guru juga berperan sebagai moderator agar antara siswa satu dengan siswa yang lainnya terdapat interaksi. Guru dapat menyajikan suatu kasus terkait dengan materi yang sedang dipelajari dan meminta siswa secara berkelompok mendiskusikan pemecahan masalahnya, sehingga interaksi antara siswa dengan siswa yang lainnya pun berjalan optimal sebagaimana mestinya. Selanjutnya, guru berperan sebagai evaluator terhadap proses pembelajaran yang telah berlangsung, dimana guru memberikan evaluasi berupa soal kepada siswa untuk menguji pemahaman siswa terhadap materi yang telah berlangsung. Evaluasi ini juga dapat memacu siswa untuk dapat memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.
c.       Strategi Pembelajaran Peer Lesson
Hilda Taba menyatakan dalam Suprihadi, bahwa strategi pembelajaran adalah cara-cara yang dipilih oleh guru dalam proses pengajaran yang dapat memberikan kemudahan atau fasilitas bagi siswa menuju tercapai pembelajaran.[12] Dalam setiap pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa di dalam kelas, perlu adanya keseimbangan dan kesesuaian diantara mereka, salah satu hal yang menjadi sorotan utama dalam pembelajaran tersebut adalah strategi yang digunakan oleh guru untuk memunculkan semangat dan kemauan siswa dalam belajar. Dalam pelaksanaan pembelajaran, guru harus menyiapkan strategi pembelajaran sesuai dengan materi yang akan dajarkan dengan menggunakan pendekatan strategi tersebut, misalnya role playing, card sort, the power of two, true and false, dan lain-lain.[13]
Strategi pembelajaran aktualisasinya berwujud serangkaian dari keseluruhan tindakan strategis guru dalam rangka mewujudkan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efesien. Efektifitas strategi dapat diukur dari tingginya kualitas dan kualitas hasil belajar yang dicapai anak. Sedangkan efisien dalam arti penggunaan waktu, fasilitas, maupun kemampuan yang tersedia.Disamping itu tindakan-tindakan operasioanal guru di kelas juga berkaitan dengan dan siasat guru dalam rangka: ((1) memotivasi dan menarik perhatian siswa, (2) meningkatkan partisipasi, (anak, (3) meningkatkan kemandirian belajar anak, (4) meningkatkan disisplin dan ketertiban kelas, (5) hubungan interpesonal anggota kelas dan sejenisnya.[14]
Siswa merupakan “produsen” artinya siswa sendirilah yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya. Siswa dalam suatu kelas biasanya memiliki kemampuan yang beragam: pandai, sedang, dan kurang. Karenanya guru perlu mengatur kapan siswa bekerja perorangan, berpasangan, berkelompok atau klasikal. Jika berkelompok, kapan siswa dikelompokkan berdasarkan kemampuan sehingga ia dapat berkonsentrasi membantu yang kurang, dan kapan siswa dikelompokkan secara campuransebagai kemampuan sehingga menjadi tutor sebaya.[15]
Tutor sebaya dikenal dengan pembelajaran teman sebaya atau antar peserta didik, hal ini biasa terjadi ketika peserta didik yang lebih mampu menyelesaikan pekerjaannya sendiri dan kemudian membantu peserta didik yang kurang mampu. Alternatif, waktu khusus tiap harinya harus dialokasikan agar peserta didik saling membantu belajar baik satu-satu atau dalam kelompok kecil.
Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Peserta didik melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab.
Manfaat metode peer lesson diantaranya adalah (1) Otak bekerja secara aktif. Dengan strategi Peer lessons siswa diajak belajar secara aktif baik di dalam maupun di luar kelas, mereka diberi kesempatan untuk memilih strategi apa yang mereka inginkan dan mereka juga mempunyai tanggung jawab menguasai pelajaran untuk dipresentasikan atau diajarkan kepada temannya (2) Hasil belajar yang maksimal. Dengan strategi Peer Lessonspeserta didik dapat belajar secara aktif, di dalam dan di luar kelas dan mereka mempunyai tanggung jawab untuk mendiskusikan dan mengajarkan materi pelajaran kepada teman yang lain, sehingga mendorong mereka untuk lebih giat belajar baik secara mandiri maupun kelompok. (3) Tidak mudah melupakan materi pelajaran. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima dari guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan apa yang telah diberikan. (4) Proses pembelajaran yang menyenangkan. Dengan belajar aktif ini peserta didik diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran, tidak hanya mental tetapi juga melibatkan fisik. Dengan cara ini biasanya peserta didik akan merasakan suasana menyenangkan. (5) Otak dapat memproses informasi dengan baik. Otak tidak akan dapat memproses informasi yang masuk kalau otak itu tidak dalam kondisi on , maka otak memerlukan sesuatu yang dapat dipakai untuk menghubungkan antara informasi yang baru diajarkan dengan informasi yang telah dimiliki. Jika belajar itu pasif, otak tidak akan dapat menghubungkan antara informasi yang baru dengan informasi yang lama.
d.      Media Audio Visual
Media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di lingkungan siswa, yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Adapun media pembelajaran adalah media yang membawa pesan-pesan atau informasi yang bertujuan intruksional atau mengandung maksud-maksud pengajaran.
Sedangkan media pembelajaran adalah bahan, alat, atau teknik yang digunakan dalam proses belajar mengajar dengan maksud agar proses interaksi pembelajaran antara guru dan siswa dapat berlangsung secara tepat guna dan berdaya guna. Media pembelajaran yaitu segala bentuk alat komunikasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi dari sumber ke peserta didik. Tujuannya adalah merangsang mereka untuk mengikuti kegiatan pembelajaran. Media selain digunakan untuk mengantarkan pembelajaran secara utuh, dapat juga dimanfaatkan untuk menyampaikan bagian tertentu dari kegiatan pembelajaran, memberikan penguatan maupun motivasi.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas memberikan gambaran bahwa media pembelajaran digunakan sebagai alat bantu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima atau dari guru ke siswa sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat peserta didik dalam proses pembelajaran selain itu media pembelajaran memberikan manfaat yang besar bagi kemudahan siswa dalam memahami materi pelajaran. Media pembelajaran yang disajikan harus menarik perhatian siswa, sehingga semangat belajar siswa menjadi meningkat. Media pembelajaran dalam kaitannya dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran di sekolah atau madrasah sangat diperlukan karena dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi program pembelajaran.
Media pembelajaran audio visual adalah alat bantu yang terdiri dari media visual yang disinkronkan dengan media audio sehingga memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah antara pengirim pesan ke penerima pesan, yaitu guru dan peserta didik yang dapat ditangkap oleh indera pendang dan dengar. Media audiovisual merupakan perpaduan yang saling mendukung gambar dan suara, yang mampu menggugah perasaan dan pemikiran penonton.
Audio visual akan lengkap dan menyajikan penyajian bahan ajar kepada siswa semakin lengkap dan optimal. Selain itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan tugas guru. Sebabnya penyajian meteri bisa diganti oleh media, dan guru bisa beralih menjadi fasilitator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar.
e.       Pembelajaran Tafsir Materi Qira'ah
Pembelajaran adalah suatu usaha untuk mengubah seseorang agar ia dapat berperilaku tertentu. Dalam pembelajaran ada kesenjangan. Hal ini merupakan cirri khas suatu pembelajaran. Pembelajaran terjadi setelah usaha tertentu dibuat untuk mengubah suatu keadaan semula menjadi keadaan yang diharapkan.[16] Sedangkan menurut nana Sudjana, pembelajaran adalah operasionalisasi dari kurikulum pembelajaran di sekolah terjadi apabila terdapat interaksi antara peserta didik dengan lingkungan belajar yang diatur oleh pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran tafsir adalah operasionalisasi dari guru bidang studi tafsir yaitu bagaimana proses pembelajaran tafsir yang merupakan salah satu mata pelajaran wajib pada jurusan agama di Madrasah Aliyah Negeri Sukoharjo, dan merupakan mata pelajaran inti yang akan diujinakan secara nasional (Ujian Nasional). Adapun materi qira'ah, adalah salah satu materi tafsir di kelas X jurusan agama semester 2. Materi ini termasuk materi yang sulit karena pada jenjang pendidikan sebelumnya belum pernah diajarkan dan dikenalkan, dan dalam modul juga tidak ada contoh-contoh yang konkrit dan jelas tentang qira'ah yang dimaksud, sehingga guru perlu memberikan contoh-contoh bacaan yang jelas, misalnya, dalam QS. Al-Baqarah/2: 259
وانظر الى العظام كيف ننشزها
“.....dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali”
Kata ننشزها dibaca dengan huruf zay ( ز ) artinya kami menyusun kembali, dan di baca dengan huruf ra’ ( ر ) artinya kami hidupkan kembali.

B.  Telaah Hasi Penelitian Terdahulu
Judul Penelitian     : PENERAPAN STRATEGI PEER LESSON UNTUK  MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII B SMPN 12 TANJUNG PINANG
Klasifikasi              : 2010
Nama Peneliti         : HERMANTO
Tempat penelitian   : DI KELAS VII B SMPN 12 TANJUNG PINANG 
Masalah                              : Guru menemukan permasalahan bahwa kemampuan siswa dalam matematika masih tergolong rendah. Hal ini disebabkan karena guru kurang mampu memilih strategi atau metode, teknik serta pendekatan-pendekatan untuk menciptakan proses pembelajaran matematika secara intensif, sehingga dapat mencapai hasil yang diinginkan.
Metode                   : Menggunakan PEER LESSON
Hasil                       : Pada saat pra tindakan strategi peer lesson belum mencapai ketuntasan hasil belajar matematika. Indikator pencapaian yang diperoleh secara individu terdapat 28 orang yang belum tuntas dan 16 orang yang mencapai ketuntasan hasil belajar matematika. Setelah diterapkan strategi Peer Lesson, pada siklus I hasil rata-rata ketercapaian belajar matematika siswa sebesar 68,48. Artinya, pada siklus pertama belum sempurna. Kendala umum yang dihadapi belum seluruhnya siswa memperhatikan materi yang di ajarkan guru. Akibatnya masih banyak konsep matematika yang belum dipahami siswa. Selain itu, pada saat siswa belajar kelompok sebagian besar siswa belum dapat berdiskusi dengan baik. Kemudian peneliti melakukan observasi sebagai penunjang pada siklus ke II. Pada siklus II rata-rata pencapaian sebesar 75,73 yang menunjukkan peningkatan dari siklus pertama. Hal ini ditandai dengan indicator yang diperoleh secara individual terdapat 5 orang yang belum tuntas dan 39 siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar matematika dengan strategi peer lesson.

C.  Kerangka Berpikir
Kerangka pikir penelitian merupakan urut-urutan logis dari pemikiran peneliti untuk memecahkan suatu masalah penelitian, yang dituangkan dalam bentuk bagan dengan penjelasannya. Menurut Muhamad Idrus bahwa, kerangka berpikir adalah gambaran mengenai hubungan antar variabel dalam suatu penelitian, yang diuraikan oleh jalan pikiran menurut kerangka logis.[17] Sedangkan menurut Riduwan bahwa, kerangka berfikir adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disintesiskan dari fakta-fakta, observasi dan telaah penelitian. Kerangka berpikir memuat teori, dalil atau konsep-konsep yang akan dijadikan dasar dalam penelitian. Uraian dalam kerangka pikir ini menjelaskan antar variabel.[18]
Dalam penelitian tindakan kelas ini, kerangka berpikir dimulai dari kondisi awal, bahwa guru belum menggunakan media atau metode pembelajaran demonstrasi dan masih menggunakan metode ceramah dengan bantuan media slide powerpoint, serta diperoleh hasil belajar siswa terutama ketertarikan untuk belajar tajwid masih rendah. Oleh karena itu, pada tingkat tindakan akan dilakukan perubahan metode dari ceramah ke metode demonstrasi yang dibagi menjadi 2 siklus. Siklus I, menggunakan metode demonstrasi dengan kelompok besar, dan diketahui hasil belajarnya. Siklus II, menggunakan metode demonstrasi dengan elompok kecil, dan akan diketahui hasil belajar siswa. Dan pada tingkat kondisi akhir, diduga dengan menggunakan metode demonstrasi dapat meningkatkan ketertarikan siswa untuk belajar tajwid.
D.  Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
1.      Melalui pendekatan peer lesson dengan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan sikap keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran Tafsir materi qira'ah Al-Qur'an kelas X Agama MAN 2 MADIUN Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.
2.      Melalui pendekatan peer lesson dengan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Tafsir materi qira'ah Al-Qur'an kelas X Agama MAN 2 MADIUN Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.
3.      Melalui pendekatan peer lesson dengan media pembelajaran audio visual dapat meningkatkan sikap keaktifan belajar siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Tafsir materi qira'ah Al-Qur'an kelas X Agama MAN 2 MADIUN Semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.

VIII.     METODE PENELITIAN
A.      Objek Tindakan Kelas
Menurut Sugiyono obyek penelitian adalah sasaran ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu tentang sesuatu hal objektif, valid, dan reliable tentang suatu hal (variabel tertentu). Sedangkan objek dari penelitian ini meliputi: (1) Keaktifan belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah Al-Qur'an, (2) Hasil belajar mata pelajaran tafsir materi qira'ah Al-Qur'an, (3) Penerapan strategi peer lesson dengan media pembelajaran audiovisual pada siswa MAN 2 MADIUN kelas X Agama semester 2 tahun pelajaran 2015/2016.
Keaktifan berarti aktifitas atau kegiatan yang tinggi terhadap sesuatu. Keaktifan merupakan bentuk sikap ketertarikan atau sepenuhnya terlibat dalam suatu kegiatan karena menyadari pentingnya atau bernilainya kegiatan tersebut. Guru dan siswa merupakan dua unsur yang terlibat langsung dalam proses interaksi belajar-mengajar. Guru harus menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didiknya agar tujuan pendidikan tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan.
B.       Setting Subjek Penelitian Tindakan Kelas
1.    Subjek Penelitian
Moleong mendeskripsikan subjek penelitian sebagai informan, yang artinya orang pada latar penelitian yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian. Adapun Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X Agama semester 2 tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 29 siswa, terdiri dari siswa laki-laki sebanyak 9 siswa dan siswa perempuan sebanyak 20 siswa.
a.       Penelitian
Penelitian dilakukan selama 10 minggu yang dimulai pada bulan Januari sampai dengan bulan Maret tahun 2016, pada semester genap tahun pelajaran 2015/2016. Pada minggu ke-3, bulan Januari digunakan untuk penyusunan proposal, minggu ke-4 sampai ke-5 Januari untuk penyusunan instrumen, minggu ke- 1-2 bulan Pebruari digunakan untuk pengumpulan data siklus I, minggu ke- 3-4 bulan Pebruari digunakan untuk pengumpulan data siklus II. Sedangkan minggu ke-1-2 bulan Maret digunakan untuk analisi data dan pembahasan dan yang terakhir minggu ke-3 bulan Maret digunakan untuk penyusunan laporan hasil.
b.      Tempat Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di kelas X jurusan Agama MAN 2 MADIUN semester 2 tahun pelajaran 2015/2016. Kelas X Agama dipilih karena materi tentang Qira'ah Al-Qur'an hanya ada di jurusan Agama kelas X saja.

C.      Variabel yang Diamati
1.    Variabel proses : Strategi pembelajaran peer leason dengan media audio visual.
2.    Variabel hasil : Keaktifan dan hasil belajar siswa.



D.      Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
1.    Perencanaan
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam perencanaan adalah:
a.       Memilih pokok bahasan yang dapat membuat siswa berfikir dan memecahkan masalah yang ada.
b.      Membuat lembar observasi
c.       Membuat alat evaluasi untuk melihat sejauh mana peningkatan penguasaan siswa pada pelajaran tafsir.
2.    Pelaksanaan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah melaksanakan proses pembelajaran terhadap materi pembelajaran. Guru mencari pemecahan masalah terhadap hasil pembelajaran tafsir yang rendah melalui strategi peer lesson.
3.    Pengamatan (observasi)
Observasi menurut Suharsimi Arikunto meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Teknik ini dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara teliti.
Observasi yang berarti pengamatan bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah, sehingga diperoleh pemahaman atau sebagai alat re-checkingin atau pembuktian terhadap informasi / keterangan yang diperoleh sebelumnya. Sebagai metode ilmiah observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Observasi ini digunakan untuk memperoleh data berupa keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran yang tertuang dalam ceklis dan diisi oleh kolaborator sebagai pembantu peneliti dalam tindakan ini.
4.      Refleksi
Hasil yang diperoleh melalui observasi dikumpulkan dan di analisa. Dari hasil observasi ini guru dapat merefleksikan diri, apakah usaha yang dilakukan dapat meningkatkan penguasaan siswa pada mata pelajaran tafsir dengan menggunakan strategi peer lesson. Hasil analisa pada tahap inilah yang menjadi acuan pada siklus berikutnya. Evaluasi dilakukan guna memperoleh gambaran tentang peningkatan penguasaan siswa pada mata pelajaran tafsir dengan strategi peer lesson untuk dijadikan bahan refleksi.

IX.          SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini ada lima bab,yaitu:
BAB I Pendahuluan. Setiap penelitian pasti berangkat darifenomena/kejadian/masalah.Oleh karena itu,bab pendahuluan memuat latar belakang masalah,identifikasi masalah,pembatasan masalah,rumusan masalah dan pemecahan masalah,tujuan penelitian tindakan kelas,manfaat penelitian tindakan kelas,dan sistematika pembahasan.
BABII             Menguraikan landasan teoritik,kerangka berfikir dan pengajuan hipotesis tindakan.
BAB III          Berisi tentang metode penelitian yang memuat objek tindakan kelas,setting penelitian dan karakteristik subyek penelitian tindakan kelas,variabel yang diamati,prosedur pelaksanaan penelitian tindakan kelas,dan jadwal pelaksanaan tindakan kelas.
BAB IV          Menguraikan tentang hasil penelitian tindakan kelas yang mencakupgambaran singkat setting lokasi penelitian,penjelasan per-siklus,proses analisis data per-siklus dan pembahasan.
BAB  V           Yaitu penutup.yaitu di dalamnya menguraikan kesimpulan sebagai jawaban dari pokok permasalahan dan sarana yang berhubungan dengan penelitian sebagai masukan-masukan untuk berbagai pihak terkait.
X.     OUTLINE DAFTAR ISI
BAB  I PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
B.  Identifikasi Masalah
C.  Pembatasan Masalah
D.  Rumusan Masalah
E.   Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
F.   Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
G.  Sistematika Pembahasan
BAB II LANDASAN TEORITIK, KERANGKA BERFIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS TINDAKAN
A.  Landasan Teoritik
B.  Kerangka Berfikir
C.  Pengajuan Hipotesis Tindakan
BAB III  METODE PENELITIAN
A.  Objek Penelitian Tindakan Kelas
B.  Setting Subyek Penelitian Tindakan Kelas
C.  Variabel yang diamati
D.  Prosedur Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas
1.    Perencanaan
2.    Pelaksanaan
3.    Pengamatan
4.    Refleksi
E.   Jadwal Pelaksanaan Tindakan Kelas
BAB IV HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
A.  Gambaran singkat setting lokasi penelitian
B.  Penjelasan per-siklus
C.  Proses analisis data per-siklus
D.  Pembahasan
BAB V  PENUTUP
A.  Simpulan
B.  Saran
  DAFTAR PUSTAKA                                                        
LAMPIRAN
XI.     DAFTAR PUSTAKA
Aqib, Zaenal. Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah. Bandung: Yrama Widya, 2007.

Djamarah, Syaiful Bahri. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

A.M, Sardiman. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011.

L. Hilberman, Melvin. Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, edisi revisi, .Bandung: Nuansa, 2012.

Salim, Peter. Kamus Besar Kontemporer. Jakarta:Modern English Press, 1991, Edisi Pertama.

Debdikbud. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1995.


Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005.

Nasution, S. Didaktik Asas-Asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara, 1995.

Saputro, Suprihadi. Strategi Pembelajaran. Malang : Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan, 2000.

Zaini, Hisyam. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Majid, Abdul. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2007.

Sastrawijaya, A. Tresna. Pengembangan Program Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta 1991.

Idrus, Muhammad.  Metode Penelitian Ilmu Sosial. Yogyakarta:Erlangga,2009.

Ridwan. Metode Dan Teknik Penyusunan Tesis. Bandung:alphabeta, 2004.

XII.     JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS
No
Kegiatan
Bulan Ke
1
2
3
1.
Penyusunan Proposal dan Koordinasi
XX


2.
Pembinaan Proposal
X


3.
Pengumpulan Data dan Analisis
X
XX
X

4.
Penulisan Laporan Penelitian


XX
5.
Penggandaan Laporan Penelitian dan Pengumpulan


XX



[1]Zaenal Aqib, Elham Rohmanto, Membangun Profesionalisme Guru dan Pengawas Sekolah, (Bandung: Yrama Widya, 2007), cet. 1, hal. 43
[2]Syaiful Bahri Djamarah, Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), Cet. 3, hal. 73.
[3]Sardiman A.M, Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011), hal. 40
[4]Melvin L. Hilberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, edisi revisi, (Bandung: Nuansa, 2012) cet. VI, hal 185
[5]Melvin L. Hilberman, Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif, edisi revisi, (Bandung: Nuansa, 2012) cet. VI, hal 185
[6]Peter Salim dan Yeni Salim, Kamus Besar Kontemporer (Jakarta:Modern English Press, 1991, Edisi Pertama), 34.  
[7]Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1995), 19.
[8]Hisyam Zani dkk, Strategi Pembelajaran Aktif, (Yogyakarta: CTSD, 2007),  xvixvii
[9]Sardiman, A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2001), 95.
[10]Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), 105
[11]S. Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), 91.
[12]Suprihadi Saputro,dkk, Strategi Pembelajaran, (Malang : Departemen Pendidikan Nasional, Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Pendidikan, 2000), 21.
[13] Lihat, Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta: Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga),  65.
[14]Hisyam Zaini dkk, Strategi Pembelajaran Aktif (Yogyakarta: Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga), 2.
[15]Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2007), 112.
[16] A. Tresna Sastrawijaya, Pengembangan Program Pembelajaran,(Jakarta: Rineka Cipta 1991), hal. 14
[17] Muhammad Idrus, Metode Penelitian ilmu Sosial, (Yogyakarta:Erlangga,2009), 75
[18] Ridwan, Metode Dan Teknik Penyusunan Tesis, (bandung:alphabeta, 2004), 25.